Viralterkini.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan pasar spot, Rabu (25/2/2026). Rupiah naik 0,23% ke level Rp16.785 per dolar AS.
Sebelumnya, rupiah sempat dibuka melemah di posisi Rp16.844 per dolar AS. Namun, tekanan tersebut berbalik arah seiring melemahnya dolar AS di pasar global.
Dolar AS Melemah Usai Pidato Trump
Penguatan rupiah terjadi setelah laju dolar AS tertahan usai pidato kenegaraan Presiden Donald Trump. Pelaku pasar menilai pidato tersebut tidak memberikan kepastian terkait persoalan domestik utama Amerika Serikat, terutama kondisi fiskal dan hubungan pemerintah dengan otoritas moneter.
Akibatnya, investor memilih bersikap hati-hati. Indeks dolar AS turun 0,16% ke level 97,68.

Pelemahan dolar ini turut mendorong penguatan mata uang Asia. Won Korea Selatan memimpin penguatan, diikuti peso Filipina dan dolar Taiwan. Sementara itu, rupee India melemah tipis.
Sentimen Eksternal Masih Dominan
Meski menguat, kondisi makroekonomi Indonesia belum sepenuhnya kuat untuk menopang penguatan rupiah secara berkelanjutan. Saat ini, rupiah lebih banyak ditopang oleh sentimen eksternal daripada perbaikan fundamental domestik.
Dari sisi fiskal, ruang ekspansi APBN semakin terbatas. Realisasi keseimbangan primer kembali mencatat defisit di awal tahun. Kondisi tersebut menunjukkan pemerintah masih mengandalkan pembiayaan utang untuk menopang belanja negara.
Ketergantungan pada Komoditas Masih Tinggi
Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia masih sangat sensitif terhadap pergerakan harga komoditas global. Struktur ekspor yang didominasi sumber daya alam membuat rupiah rentan terhadap fluktuasi pasar internasional.
Jika harga batu bara, CPO, atau nikel terkoreksi, surplus perdagangan dapat menyusut dengan cepat. Situasi ini berpotensi mengurangi pasokan valuta asing di pasar domestik.
Arus Modal Portofolio Picu Volatilitas
Selain itu, neraca pembayaran Indonesia masih bergantung pada arus modal portofolio. Ketergantungan ini membuat pergerakan rupiah menjadi lebih volatil.
Saat dolar AS melemah, rupiah ikut menguat. Namun, ketika dolar kembali menguat, rupiah cenderung tertekan.
Penguatan Dinilai Bersifat Sementara
Pelemahan indeks dolar AS setelah pidato Trump lebih mencerminkan respons jangka pendek terhadap ketidakpastian politik domestik AS. Kondisi ini belum menunjukkan perubahan arah kebijakan makroekonomi Amerika Serikat secara fundamental.
Oleh karena itu, penguatan rupiah yang terjadi bersama mata uang Asia lainnya diperkirakan bersifat sementara, bukan awal dari tren apresiasi jangka panjang.
Selama defisit transaksi berjalan berada pada level rentan dan kebutuhan pembiayaan eksternal pemerintah masih tinggi, rupiah akan tetap sensitif terhadap perubahan sentimen global. (**)
Berita Terkini
Berita Terbaru
Daftar Terbaru
News
Jasa Impor China
Berita Terbaru
Flash News
RuangJP
Pemilu
Berita Terkini
Prediksi Bola
Technology
Otomotif
Berita Terbaru
Teknologi
Berita terkini
Berita Pemilu
Berita Teknologi
Hiburan
master Slote
Berita Terkini
Pendidikan
Resep
Jasa Backlink
Slot gacor terpercaya
Anime Batch