KabarJawa.com– Aktivitas Gunung Merapi kembali menunjukkan intensitas tinggi. Sepanjang periode 23–29 Januari 2026, puncak gunung api paling aktif di Indonesia ini mengalami tiga kali kejadian awan panas guguran (APG).
Fenomena tersebut menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu bahaya lanjutan di kawasan rawan bencana.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menyampaikan bahwa hasil pemantauan visual dan instrumental menunjukkan aktivitas erupsi efusif Gunung Merapi masih terus berlanjut.
Oleh karena itu, BPPTKG menetapkan status aktivitas Gunung Merapi pada Level III atau Siaga.
Awan Panas Guguran dalam Sepekan
Selama sepekan pengamatan, cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari. Namun, kabut kerap menyelimuti kawasan puncak pada siang hingga sore hari.
Dalam kondisi tersebut, pengamat mencatat bahwa Gunung Merapi secara konsisten mengeluarkan asap putih dengan intensitas tipis hingga tebal.
Asap vulkanik tersebut memiliki tekanan lemah dengan tinggi bervariasi antara 10 hingga 25 meter dari puncak kawah. Aktivitas ini memperlihatkan bahwa proses degassing magma masih berlangsung secara aktif di dalam tubuh gunung.
BPPTKG mencatat tiga kali kejadian awan panas guguran selama sepekan. Awan panas tersebut meluncur sejauh maksimum 1.500 meter ke arah hulu Kali Bebeng, wilayah yang termasuk dalam zona potensi bahaya.
Selain awan panas guguran, aktivitas guguran lava juga terjadi dengan intensitas tinggi.
- 2 kali guguran lava ke arah hulu Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum 1.700 meter
- 53 kali guguran lava ke arah hulu Kali Krasak sejauh maksimum 2.000 meter
- 36 kali guguran lava ke arah hulu Kali Bebeng sejauh maksimum 1.600 meter
- 60 kali guguran lava ke arah hulu Kali Sat/Putih dengan jarak maksimum 2.000 meter
Rangkaian guguran ini memperlihatkan bahwa material lava masih terus mengalami ketidakstabilan di sekitar puncak dan kubah lava.
Hasil analisis morfologi menggunakan kamera pemantauan Deles 5 dan Babadan 2 menunjukkan adanya perubahan bentuk pada Kubah Lava Barat Daya. Perubahan tersebut terjadi akibat dinamika volume kubah dan intensitas aktivitas guguran lava yang tinggi.
Sebaliknya, Kubah Tengah tidak menunjukkan perubahan morfologi yang signifikan. Berdasarkan analisis foto udara tertanggal 13 Desember 2025, BPPTKG mencatat volume Kubah Barat Daya mencapai 4.171.800 meter kubik, sementara Kubah Tengah tercatat sebesar 2.368.800 meter kubik.
Aktivitas Kegempaan Meningkat Signifikan
Jaringan seismik Gunung Merapi merekam peningkatan intensitas kegempaan selama periode pengamatan ini dibandingkan minggu sebelumnya. BPPTKG mencatat total kejadian gempa sebagai berikut.
- 3 gempa Awan Panas Guguran (APG)
- 10 gempa Vulkanik Dangkal (VTB)
- 602 gempa Fase Banyak (MP)
- 1 gempa Low Frequency (LF)
- 787 gempa Guguran (RF)
- 42 gempa Tektonik (TT)
Pola kegempaan tersebut mengindikasikan pergerakan magma dan material vulkanik masih aktif di bawah permukaan Gunung Merapi.
Pengukuran deformasi menggunakan Electronic Distance Measurement (EDM) dan Global Positioning System (GPS) menunjukkan kondisi relatif stabil. Jarak tunjam EDM di sektor barat laut dari titik BAB0 ke reflektor RB2 terukur pada kisaran 3.840,336–3.840,344 meter.
Sementara itu, data baseline GPS Labuhan–Jrakah terukur pada kisaran 7.108,13–7.108,15 meter. BPPTKG menyimpulkan bahwa deformasi Gunung Merapi belum menunjukkan perubahan signifikan selama periode laporan.
Selama minggu pengamatan, hujan mengguyur beberapa pos pemantauan di sekitar Gunung Merapi. Intensitas hujan tertinggi tercatat pada 26 Januari 2026 di Pos Kaliurang, dengan curah hujan 38,13 mm per jam selama 109 menit.
Meski demikian, BPPTKG belum menerima laporan adanya aliran lahar maupun peningkatan debit sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya.
- Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km
- Sungai Woro sejauh maksimal 3 km
- Sungai Gendol sejauh maksimal 5 km
Selain itu, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius 3 km dari puncak apabila terjadi letusan eksplosif.
Pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten perlu terus meningkatkan upaya mitigasi bencana, memperkuat kapasitas masyarakat, serta menyiapkan sarana dan prasarana evakuasi.
Lalu, masyarakat semestinya tidak melakukan aktivitas apa pun di zona potensi bahaya, mewaspadai ancaman awan panas guguran dan lahar, serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.
BPPTKG menegaskan bahwa pihaknya akan meninjau ulang status Gunung Merapi apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.
Masyarakat sebaiknya hanya mengakses informasi resmi melalui Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat, situs resmi BPPTKG dan MAGMA ESDM, aplikasi Magma Indonesia, media sosial BPPTKG, radio VHF 172.000 MHz, atau langsung ke kantor BPPTKG di Jalan Cendana No. 15, Yogyakarta. (ef linangkung)
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film